Beranda > Psikologi Pendidikan > KEDISIPLINAN SISWA, SEBUAH TINJAUAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN (bag. 3)

KEDISIPLINAN SISWA, SEBUAH TINJAUAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN (bag. 3)

Selanjutnya, pengikut Piaget, Lawrence Kohlberg menemukan tiga tingkat pertimbangan moral yang dilalui manusia prayuwana, yuwana, dan pascayuwana. Setiap tingkat perkembangan terdiri atas dua tahap perkembangan, sehingga secara keseluruhan perkembangan moral menusia itu terdiri dalam enam tahap.
Tingkat perkembangan pertimbangan moralitas yang pertama (moralitas prakonvensional), yaitu ketika manusia berada dalam perkembangan prayuwana (usia 4-10 tahun) yang belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial. Pada tingkat moralitas prakonvensional tahap pertama, manusia memperhatikan ketaatan dan hukum dengan konsep moral: 1) anak menentukan keburukan perilaku berdasarkan tingkat hukuman akibat keburukan tersebut; 2) perilaku baik dihubungkan dengan penghindaran dari hukuman. Sedangkan tahap kedua, manusia memperhatikan pemuasan kebutuhan dengan konsep moral, perilaku baik dihubungkan dengan pemuasan keinginan dan kebutuhan tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang lain.
Tingkat perkembangan pertimbangan moralitas yang kedua (moralitas konvensional), yaitu ketika manusia menjelang dan mulai memasuki fase perkembangan yuwana (usia 10-13 tahun) yang sudah menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial. Pada tingkat moralitas konvensional tahap ketiga, manusia memperhatikan citra ”anak baik” dengan konsep moral: 1) anak dan remaja berperilaku sesuai dengan aturan dan patokan moral agar memperoleh persetujuan orang dewasa, bukan untuk menghindari hukuman; 2) perbuatan baik dan buruk dinilai berdasarkan tujuannya. Jadi, ada perkembangan kesadaran terhadap perlunya aturan. Sedangkan tahap keempat, manusia memperhatikan hukum dan peraturan dengan konsep moral: 1) anak dan remaja memiliki sikap pasti terhadap wewenang dan aturan; 2) hukum harus ditaati oleh semua orang.
Tingkat perkembangan pertimbangan moralitas yang ketiga (moralitas pascakonvensional), yaitu ketika manusia telah memasuki fase perkembangan yuwana dan pascayuwana (usia 13 tahun ke atas) yang memandang moral lebih dari sekedaar kesepakatan tradisi sosial. Pada tingkat moralitas pascakonvensional tahap kelima, manusia memperhatikan hak perseorangan dengan konsep moral: 1) remaja dan dewasa mengartikan perilaku baik dengan hak pribadi sesuai dengan aturan dan patokan sosial; 2) perubahan hukum dan aturan dapat diterima jika diperlukan untuk mencapai hal-hal yang paling baik; 3) pelanggaran hukum dan aturan dapat terjadi karena alasan-alasan tertentu. Sedangkan tahap keenam, manusia memperhatikan prinsip-prinsip etika dengan konsep moral: 1) keputusan mengenahi perilaku-perilaku sosial didasarkan atas prinsip-prinsip moral pribadi yang bersumber dari hukum universal yang selaras dengan kebaikan umum dan kepentingan orang lain; 2) kenyakinan terhadap moral pribadi dan nilai-nilai tetap melekat, meskipun sewaktu-waktu berlawanan dengan hukum yang dibuat untuk mengekalkan aturan sosial.
Perkembangan sosial dan moral menurut teori belajar sosial yang merupakan teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Salah seorang tokoh utama teori ini adalah Albert Bandura, seorang psikolog pada Universitas Stanford Amerika Serikat, yang oleh banyak ahli dianggap sebagai seorang behavioris masa kini yang moderat. Tidak seperti rekan-rekannya sesama penganur aliran behavioresme, Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atau stimulus (S-R bond), melainkan juga akibat rekasi yang timbul akibat interaksi antara ligkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.
Prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura termasuk belajar sosial dan moral. Sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Dalam hal ini, seorang siswa belajar mengubah perilakunya sendiri melalui penyaksian cara orang atau sekelompok orang mereaksi atau merespons sebuah stimulus tertentu. Siswa ini juga dapat mempelajari respons-respons baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain, misalnya guru atau orang tuanya.
Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditentukan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan). Penjelasan lebih lanjut mengenahi prosedur-prosedur belajar sosial dan moral tersebut adalah sebagai berikut.
Conditioning. Menurut prinsip-prinsip kondisioning, prosedur belajar dalam mengambangkan perilaku sosial dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan ”reward” (ganjaran/memberi hadiah atau ganjaran) dan punishment (hukuman/memberi hukuman). Dasar pemikirannya ialah sekali seorang siswa mempelajari perbedaan antara perilaku yang menghasilkan ganjaran dengan perilaku yang mengakibatkan hukuman, ia senantiasa berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu ia perbuat.
Sehubungan dengan hal di atas, komentar-komentar yang disampaikan orang tua atau guru ketika mengajar/menghukum siswa merupakan faktor yang penting untuk proses internalisasi atau penghayatan siswa tersebut terhadap moral standards (patokan-patokan moral). Orang tua dan guru dalam hal ini sangat diharapkan memberi penjelasan agar siswa tersebut benar-benar paham mengenahi jenis perilaku mana yang menghasilkan ganjaran dan jenis perilaku mana yang menimbulkan sangsi.
Reaksi-reaksi seorang siswa terhadap stimulus yang ia pelajari adalah hasil dari adanya pembiasaan merespons sesuai dengan kebutuhan. Melalui proses pembiasaan merespons (conditioning) ini, juga ia menemukan pemahaman bahwa ia dapat menghindari hukuman dengan memohon maaf yang sebaik-baiknya agar kelak terhindar dari sangsi.
Imitation. Prosedur lain yang juga penting dan menjadi bagian yang integral dengan prosedur-prosedur belajar menurut teori Social learning, ialah proses imitasi atau peniruan. Dalam hal ini, orang tua dan guru seyogyanya memainkan peran penting sebagai seorang model atau tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi siswa.
Kualitas kemampuan siswa dalam melakukan perilaku sosial hasil pengamatan terhadap model tersebut, antara lain bergantung kepada ketajaman persepsinya menganahi ganjaran dan hukuman yang berkaitan dengan benar dan salahnya perilaku yang ia tiru dari model tadi. Selain itu, tingkat kualitas imitasi tersebut juga bergantung pada persepsi siswa ”siapa” yang menjadi model. Maksudnya, semakin piawai dan berwibawa seorang model, semakin tinggi pula kualutas imitasi perilaku sosial dan moral siswa tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, pengetahuan psikologi tentang anak didik menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan. Karena itu, pengetahuan tentang psikologi dalam hal ini tentang perkembangan sosial dan moral seharusnya menjadi kebutuhan bagi para pendidik, bahkan bagi setiap orang yang menyadari peranannya sebagai pendidik.
Perilaku moral merupakan kemampuan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Nilai-nilai moral itu, seperti seruan untuk berbuat baik, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain dan larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum minuman keras dan berjudi. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya, seperti halnya kemampuan siswa untuk menerima dan melakukan tata tertib siswa di sekolah.
Sehubungan dengan upaya peningkatan kemampuan untuk menerima dan melakukan peraturan tata tertib siswa, faktor lingkungan sosial anak didik besar pengaruhnya dalam mengembangkan moral seorang anak, peranan orang tua dan guru sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil. Dengan demikian dalam hal mengupayakan peningkatan ketaatan terhadap tata tertib siswa di sekolah dapat berlangsung melalui beberapa cara, sebagai berikut:
1. Pendidikan Langsung
Yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya. Di samping itu, keteladanan dari orang tua, guru atau orang dewasa lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral.
Kepribadian adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seorang guru sebagai pengembang sumber daya manusia, disamping ia berperan sebagai pembimbing dan pembantu, guru juga berperan sebagai anutan. Kepribadian guru akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat sekolah dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).
Untuk mengatisipasi kemungkinan munculnya sikap negatif siswa, seperti pelanggaran pada tata tertib siswa, guru dituntut untuk terlebih dahulu menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain. Dalam hal bersikap positif terhadap suatu peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral, seperti seruan untuk berbuat baik, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain di sekolah, seorang guru sangat dianjurkan untuk senantiasa menghargai dan mencintai profesinya. Guru yang demikian tidak hanya bisa memberikan bimbingan kepada murid agar mereka memahami tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk, tetapi juga mampu meyakinkan kepada para siswa kesadaran terhadap perlunya aturan bagi kehidupan mereka. Dengan meyakini terhadap perlunya aturan, maka akan timbul kesadaran dan sikap positif terhadap suatu peraturan atau tata tertib sekaligus terhadap guru yang membimbingnya.
Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi sikap dan perilaku moral ialah orangtua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orangtua, praktik pengelolaan keluarga, dan ketegangan keluarga, semuanya dapat memberi dampak baik atau buruk terhadap moralitas siswa. Dalam hal ini kelalaian orang tua dalam mendidik anaknya dapat menimbulkan dampak lebih buruk lagi, bahkan bisa cenderung berperilaku menyimpang.
2. Identifikasi
Yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya (seperti orang tua, guru, kyai, artis atau orang dewasa lainnya). Prosedur lain yang dapat berlangsung dan juga penting dan menjadi bagian integral dengan prosedur-prosedur dalam pengembangan moral anak menurut teori social learning, ialah proses imitasi atau peniruan. Dalam hal ini, orangtua dan guru seyogyanya memainkan peran penting sebagai seorang model atau tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi siswa.
Mula-mula seorang siswa mengamati model orang tua dan gurunya sendiri yang sedang melakukan sebuah perilaku sosial, lalu perbuatan yang dilakukan model itu diserap oleh memori siswa tersebut. Cepat atau lambat siswa tersebut akan meniru perbuatan sosial dan moral yang dicontohkan oleh modelnya itu.
3. Proses Coba-coba (trial & error)
Yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikannya.
Menurut prinsip-prinsip kondisioning, prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku sosial dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan ”reward” (ganjaran/pujian/penghargaan) dan punishment (hukuman). Dasar pemikirannya ialah sekali seorang siswa mempelajari perbedaan antara perilaku yang menghasilkan ganjaran denga perilaku yang mengakibatkan hukuman, ia senantiasa berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu ia perbuat.
Sehubungan dengan hal di atas, komentar-komentar yang disampaikan orangtua atau guru ketika mengganjar/menghukum siswa merupakan faktor yang penting untuk proses internalisasi atau penghayatan siswa tersebut terhadap moral standards (patokan-patokan moral). Orangtua dan guru dalam hal ini sangat diharapkan memberi penjelasan agar siswa tersebut benar-benar paham mengenai jenis perilaku mana yang menghasilkan ganjaran dan jenis perilaku mana yang menimbulkan sangsi.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: